TOILET ... TOILETTE ... TOILETTEN

.
Toilet di Indonesia, toilette di Jerman, maupun toiletten di Austria sama saja, sama-sama berarti kakus atau wc (water closet). Kalau berkunjung ke tiga negara itu, taklah susah mencarinya, dan jangan khawatir kalau sampai nyecer di celana bila sudah sesak dan tak tertahankan. Yang paling penting selalu sedia uang receh barang 1000 rupiah atau 20 cent uang uero kalau sedang berada di dua negara terakhir, Jerman dan Austria.

Walau sama-sama berarti kakus, namun memiliki perbedaan dalam perlakuan. Kalau di Indonesia, biasanya toilet diperlakukan semena-mena. Mengapa saya sebut semena-mena? Toilet di Indonesia selalu diperlakukan tak adil, suka dibiarkan jorok dan basah, mentang-mentang selalu didentikkan dengan tempat kotoran dan najis. Meski sudah bayar upeti 1000 rupiah setiap masuk toilet, tetap saja bau dan kotor. Kalaupun bersih, selalu dibiarkan basah dan kumuh. Dudukan kloset maupun urinoirnya pun dibiarkan kuning pekat dan berlumut, seperti tak pernah disikat ratusan tahun. Yang paling ironis, toilet-toilet di tempat ibadah pun tak jauh berbeda. Lama-lama, karena terbiasa melihat kloset yang demikian, kita pun jadi maklum.

Ciri lain yang menonjol dari toilet di negeri ini adalah basah, tak pernah dibiarkan kering. Andaipun ada tulisan peringatan “Jangan sampai basah, apalagi banjir”, tetap saja tak peduli. Air selalu bertebaran di lantai kloset. Petugas cleaning service pun sibuk mengeringkannya. Barangkali, cuma di Indonesia toilet-toilet umum selalu dihadiri oleh petugas cleaning service, setia setiap saat kayak Rexona. Bandingkan dengan di Jerman dan Austria seperti yang akan saya ceritakan kelak.

Di antara semua toilet umum yang pernah saya kunjungi, hanya Pondok Indah Mall, Plaza Senayan, Grand Indonesia, dan Plaza Indonesia (semuanya di Jakarta, ada yang mau menambahkan, silahkan) yang punya toilet sangat apik, bersih, kering, mengkilap, dan harum. Mesin pengering tangan dan tissu pun selalu tersedia. Wajar memang keempat tempat yang saya sebutkan tadi punya toilet yang oke punya, mereka tempat para borjuis, kaum kelas menengah atas Jakarta hang-out, belanja, kongkow-kongkow, dan menghabiskan waktunya kalau lagi iseng dan bete. Bandingkan dengan toilet umum di Stasiun Kereta Bogor, Terminal Senen dan Pulo Gadung, di Pasar Minggu, atau di Pasar Induk Kramat Jati, semuanya bertolak belakang. Di lima tempat yang saya sebutkan itu, yang namanya toilet tak lebih dari sekadar tempat buang hajat, tempat melepas kotoran yang sesak untuk dibuang oleh tubuh. Nilai lebihnya, jangan harap bisa didapat.

Di Jerman, lain lagi ceritanya, toilet umum di negara maju itu bisa dikatakan apik dan bersih, tergantung kesadaran masyarakatnya untuk merawat toilet publik tersebut. Memang tak semuanya seperti itu, karena saat mendarat di Bandara Frankfurt, toiletnya pun ada yang bermasalah, mampet, hingga tissu bekas dan kotoran para bule itupun meluap. Tak ada petugas cleaning service, yang ada cuma tulisan “out of order”. Dasar udik, saya masih sempat melongok ke dalam. Satu lagi yang perlu Anda perhatikan kalau sedang berada di negeri maju seperti Jerman, setiap kloset selalu disediakan tissu yang lumayan banyak, tahu sendirikan gunanya untuk apa. Jangan harap bisa nemu air apalagi ember buat cebok. Semuanya serba otomatis, saat Anda selesai buang hajat dan bangun dari dudukan kloset, air dengan sendirinya akan mengalir deras, menghanyutkan hajat Anda yang baru dikeluarkan. Kalaupun pengen pakai air, Anda harus ambil air dulu di wastafel, pakai botol minuman atau sejenisnya.

Austria pun demikian, tak jauh berbedalah dengan Jerman, di kedua negeri ini toilet dibiarkan kering. Mereka tak suka basah-basahan dalam toilet. Toilet basah dianggap jorok oleh mereka. Bayangkan, karena tak ingin toilet yang mereka gunakan basah, mereka rela bersih-bersih cuma pakai tissu. Saya pun jadi heran, kok para bule itu bisa betah ya bersih-bersih cara demikian, cuma modal tissu doang, hiiii. Kalau sempat, coba deh iseng longok tempat sampah di dalam toilet mereka, isinya semua tissu bekas yang sudah berwarna kuning-kekuningan, iiiich, hwuekkk.

Catatan:
Tulisan ini pernah saya posting di Kompasiana:
http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2011/03/03/toilettoilettetoiletten/

0 comments:

Post a Comment