SUATU SORE DI MANNHEIM CITY

.
Sore itu Mannheim City mulai terlihat sepi, toko-toko mulai tutup dan bersiap-siap menyambut kehidupan malamnya. Berbeda dengan pemilik-pemilik cafe, bar, dan club malam, mereka mulai sibuk membenahi usahanya untuk bersiap-siap buka dan menyambut tamu. Maklum saja, kehidupan malam di Mannheim menjadi semarak dengan adanya cafe, bar, dan club-club malam tersebut, dan mereka mulai terlihat sibuk ketika menjelang sore dan malam hari. Jadi, jangan harap di kota itu mal-mal akan buka sampai jauh malam, kecuali (mungkin) menjelang hari Natal tiba.

Sekitar jam 6 sore waktu setempat jalan-jalan mulai sepi, saya dan seorang teman terus menelusuri jalan kota itu di tengah udara musim gugur yang lumayan dingin, untuk kembali ke Holiday Inn, hotel tempat saya dan rombongan menginap. Sejak jam 3 sore saya dan teman saya itu sudah keluar hotel, mencoba mengenal Mannheim lebih dekat lagi setelah city tour - mengelilingi Frankfurt sejak pagi. Jarak antara Frankfurt dan Mannheim City memang tak terlalu jauh. City tour di Mannheim memang tak dilakukan dan tak tercantum di agenda perjalanan saya dan rombongan. Mannheim hanya dijadikan tempat menginap dan transit, karena pusat kegiatan selama 3 hari pertama (10-13/10/2003) di Jerman dilakukan di Frankfurt.

Tiga hari di Mannheim tentu sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Sebab itulah saya dan teman saya itu melakukan city tour sendiri, tanpa guide, cuma berbekal kenekadan. Tak banyak kesulitan yang ditemukan, sejauh apapun yang dijalani, Mannheim tetaplah kota menarik. Lelah pun tak dirasakan, terpaan udara sejuk dan dingin malah makin memberi semangat untuk menelusuri jalan-jalan di kota itu. Tujuan utama cuma satu, melihat kehidupan dan hal-hal menarik di Mannheim.

Kami menemukan landmark Mannheim City yang sangat terkenal, der Wasserturm atau water tower, letaknya di sebelah timur pusat kota Mannheim. Tempat Wasserturm berdiri lebih terlihat seperti alun-alun kota yang umum ditemukan di negeri kita, Indonesia. Bangunan-bangunan peninggalan masa lalu pun masih tetap dipertahankan. Ada Mannheim Palace atau Mannheimer Schloss yang dibangun pada abad 18. Beberapa bangunan tua juga terlihat di sekitar der Wasserturm itu.


Mannheim City terletak di sebelah barat daya Jerman, dan menjadi kota terbesar kedua di Bundesland Baden-W├╝rttemberg, setelah ibu kota Stuttgart. Jumlah penduduknya sedikit sekitar 300 ribuan, bandingkan dengan kota-kota besar di Indonesia. Jalan raya di Mannheim mampu menghubungkan beberapa kota besar lainnya seperti Frankfurt di sebelah utara, Karlsruhe sebelah selatan, Saarbr├╝cken di sebelah barat, dan Nuremberg di sebelah timur. Transportasi umum di Mannheim City dijalankan oleh bis dan tram yang dioperasikan oleh Rhein-Neckar-Verkehr (Rhine-Neckar transport). Sayangnya, saya tak mencoba naik tram yang terkenal di Mannheim itu, menyesal rasanya karena harus buru-buru balik hotel.

Dalam perjalanan menuju hotel, perut pun mulai terasa lapar. Untung ada Burger King, pelayannya berasal dari berbagai bangsa, sepertinya mahasiswa asing. Ada yang berasal dari Turki, Pakistan, dan Afrika. Saya memang tak bertanya tentang asal mereka, takut dibilang rasis. Saya hanya menebak-nebak dari ciri khas wajah mereka. Saya pesan satu paket, saya pikir dagingnya beef, ternyata tidak. Untung si pelayan Turki menjelaskan kalau itu bukan beef tapi Racoon. Sepertinya dia tahu kalau saya dari Indonesia. Selesai makan (sore), saya dan teman pun langsung bergegas balik ke hotel karena malam sudah menjelang.


Catatan:
Tulisan ini sudah pernah saya posting di blog Kompasiana:
http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/05/17/suatu-sore-di-mannheim-city/

0 comments:

Post a Comment