MALIOBORO, TAK PERNAH BUATKU BOSAN

.
Mengunjungi Malioboro hingga berkali-kali memang tak membuat saya bosan. Tempat yang ramai dan padat itu memiliki daya tarik sendiri bagi saya. Banyak hal menarik yang sering saya temukan ketika mengunjungi Malioboro. Mulai pedagang kaki lima, pengamen, kuliner yang terbentang sepanjang jalan Malioboro, hingga andong dan becak yang siap mengantar saya keliling Yogya.

Kadang saya suka gerah sendiri saat para penarik becak menawari saya ke tempat-tempat souvenir dan Bakpia Pathok. Di antara mereka ada yang memaksa namun lama-lama saya jadi terbiasa setelah berkali-kali ke Malioboro. Pas ke Yogya dua bulan kemarin, intensitas mereka menawari jasa becaknya sudah berkurang, entah karena mereka lagi puasa atau sudah ogah nawarin ke saya. Lagian, saya juga sudah pasang tampang cuek.

Saya lebih suka berjalan kaki menelusuri Jalan Malioboro, lebih banyak yang bisa saya lihat. Saya akan berhenti sejenak di tempat-tempat yang menurut saya menarik. Kalau ada barang dagangan yang unik saya akan berhenti, mengamati dengan penuh minat, meski akhirnya belum tentu saya beli. Saya juga selalu berharap akan bertemu Pak Gubernur, Sultan Hamengkubuwono X yang katanya suka bersepeda dari keratonnya hingga kantor gubernuran yang terletak di Jalan Malioboro juga. Walau harapan itu tak pernah terwujud, namun Malioboro tetap punya magnet yang tak bisa saya lepaskan.

Saat berkunjung sekitar dua bulan lalu itu (16/08/2011), Malioboro makin terlihat semarak, turis-turis berwajah eropa sering saya temukan. Mereka juga sangat menikmati Malioboro. Agaknya mereka sudah menganggap Indonesia sebagai tempat yang aman dikunjungi, terutama Yogyakarta. Letak Malioboro pun sangat strategis, tak jauh dari Stasiun Tugu (sebelah Utara) dan dekat dengan kawasan wisata keraton (sebelah Selatan).

Setiap malam, setelah para pedagang kaki lima mengepak barangnya, Jalan Malioboro pun berubah menjadi kawasan kuliner. Banyak pedagang makan lesehan yang menggelar berbagai menu khas Yogya. Tak jauh dari Malioboro, kawasan Vredeburg dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret, setiap malam ramai dikunjungi anak muda atau remaja, mulai dari pelajar hingga mahasiswa, bahkan para punk juga turut memeriahkan kawasan tersebut. Berbagai komunitas pun turut ambil bagian seperti komunitas fotografi dan sepeda.

Malioboro memang banyak menawarkan hal menarik bagi saya, walau semrawut di kala siang, namun tetap menyenangkan, bahkan tak terlupakan. Saya tak pernah merasa jemu berkunjung ke Malioboro. Magnet Malioboro memang begitu kuat. Walau sudah berkali-kali berkunjung ke sana, selalu saja punya keinginan untuk kembali. Saya pun tak heran kalau Katon Bagaskara menciptakan lagu khusus tentang Yogya dengan suasana khas Malioboro. Barangkali, dia pun punya perasaan yang sama seperti yang saya rasakan tentang Yogya, khususnya Malioboro.


Catatan:
Tulisan ini pernah saya posting di Kompasiana:
http://muda.kompasiana.com/2011/08/19/perempuan-perempuan-hebat-di-negeri-orang/

0 comments:

Post a Comment