Showing posts with label Nusa Tenggara Barat. Show all posts
Showing posts with label Nusa Tenggara Barat. Show all posts

25 September 2012

NARSIS DI PANTAI MALIMBU

Dalam perjalanan dari Pantai Senggigi menuju Gili Trawangan, saya melewati sebuah pantai yang penuh pesona, Malimbu namanya. Pantai Malimbu di Lombok memang sangat indah. Baru kali ini saya melihat pantai yang begitu indahnya. Rasa takjub dan decak kagum pun keluar dari mulut saya, "Woww ...". 

Pantai Malimbu terletak di Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dari kota Mataram hanya berjarak sekitar 30 km dan dapat ditempuh dengan kendaaran umum maupun sewaan. Jalan raya menuju tempat itu pun bagus.

Dari Bukit Malimbu, pemandangan pantai Malimbu ke laut lepas jelas terlihat lebih sempurna. Lautan berwarna biru terhampar di depan mata seperti sebuah hamparan permadani biru. Mata pun tak mau berkedip melihat keindahan yang baru saja saya lihat untuk pertama kalinya itu. Dari situ saya bisa melihat Gili Trawangan di seberang Pulau Lombok.

Bukit Malimbu merupakan spot terbaik untuk menyaksikan Pantai Malimbu dari atas. Bukit ini terletak di jalur antara Senggigi dan Pelabuhan Bangsal (pelabuhan ke Gili Trawangan). Setiap wisatawan yang berasal dari Pantai Senggigi ke Gili Trawangan pasti akan melewati Bukit Malimbu yang di bawahnya terhampar Pantai Malimbu yang indah dan eksotis tersebut.

Tak heran kalau saya dan teman-teman seperjalanan tiba-tiba jadi narsis, yang tadinya malu-malu difoto malah makin percaya diri di depan kamera. Senyum pun mengambang dengan berbagai gaya dan pose. Tapi tenang saja, wisatawan lain juga banyak kok yang seperti itu. Keindahan hamparan Pantai Malimbu buat kami jadi lupa diri. 

Jalan raya di Bukit Malimbu

Bis pariwisata yang saya tumpangi

Pantai Malimbu




Gili Trawangan terlihat dari Bukit Malimbu.
Panasnya lumayan terik


Memandang Pantai Malimbu

Narsis bareng kebo
Narsis bertiga, Fauziyah Fuad, me, n Hanaa (Umi)


16 September 2012

DESA SADE, KAMPUNG SASAK ASLI

Desa Sade merupakan desa Sasak asli yang masih dipertahankan keasliannya. Desa Sade terletak di daerah Rembitan tak jauh dari Kota Mataram, Lombok. Dari arah Bandara Udara Internasional Lombok, Desa Sade sudah tak begitu jauh lagi, sekitar kurang setengah jam perjalanan dengan bis. Di desa Sade, saya masih bisa menyaksikan bentuk rumah Sasak asli yang beratap ijuk dengan tradisi masyarakat setempat yang masih asli. Meski letak desa itu tepat di pinggir jalan raya yang beraspal mulus dan banyak dilalui oleh kendaraan bermotor, Sade tetap bertahan sebagai desa asli suku Sasak. Modernisasi yang menyerbu Pulau Lombok sepertinya tak kuasa memengaruhi desa tersebut.

Secara umum, sebagai suku Sasak asli, masyarakat Sade masih menganut kepercayaan Wektu Telu yaitu kepercayaan Islam yang memiliki unsur-unsur Hindu, Buddha, maupun kepercayaan tradisional kuno lainnya. Meski demikian, mereka tetap melaksanakan salat wajib lima waktu. Kaum perempuan pada Masyarakat Sade masih tetap mahir menenun. Mereka memproduksi kain tenun ikat Lombok yang indah dan menawan. Saya masih bisa menyaksikan mereka menenun dan langsung menjual hasil tenunannya itu pada para pengunjung.

Selain itu, penduduk setempat juga membuat perhiasan-perhiasan atau pernak-pernik atau aksesoris khas Sasak seperti gelang, kalung, anting, dan cincin. Pernak-pernik tersebut bisa dijadikan cinderamata untuk dibawa pulang. Harganya pun tak mahal, sekitar 5000 rupiah per satuan. Harga ini juga masih bisa dinego kalau kita belinya banyak. Berbeda dengan kain tenunan yang cukup menguras dompet.

Memang tak dapat dipungkiri, Desa Sade tetap dipertahankan sebagai desa asli suku Sasak ditujukan untuk kepentingan pariwisata. Oleh pemerintah setempat, Desa Sade dijadikan sebagai objek wisata bagi para wisatawan, baik domestik maupun internasional karena banyak desa asli suku Sasak yang sudah punah atau berubah bentuk mengikuti perkembangan zaman. Hanya Desa Sade yang masih bertahan dan tetap dipertahankan keasliannya.

Upaya mempertahankan keaslian desa Sasak Sade tersebut didukung pula sepenuhnya oleh masyarakat setempat. Ini terlihat dari pola dan gaya hidup mereka yang masih bersahaja dan tradisional, tanpa adanya pengaruh unsur-unsur modernisasi yang berarti. Bahasa yang mereka gunakan sehari-hari pun masih bahasa Sasak asli. Demikian pula dengan rumah mereka yang masih asli khas Sasak, selain beratap ijuk, lantai dasar rumah mereka juga terbuat dari tanah liat yang sudah mengeras seperti batu. Pintu masuk rumah pun tak melebihi tinggi orang dewasa. Hal ini dimaksudkan agar setiap tamu yang datang ke rumah mereka akan segera menunduk ketika melewati pintu masuk tersebut. Ini merupakan simbol untuk menghormati si tuan rumah atau pemilik rumah.

Yang paling unik dan membuat saya tercengang dari rumah khas Sasak tersebut adalah cara mereka membersihkan lantai rumah mereka. Kalau orang-orang di perkotaan atau modern selalu menggunakan zat pembersih lantai, namun tak demikian dengan rumah Sasak. Untuk mengepel lantai rumah, mereka menggunakan kotoran kerbau yang disebar ke seluruh lantai. Penggunaan kotoran kerbau ini sebenarnya ada maksudnya. Konon katanya, kotoran kerbau itu mengandung zat yang mampu mengusir nyamuk dan memberikan efek hangat di dalam ruangan rumah, terutama ketika di malam hari atau suhu udara dingin. Yang membuat saya takjub lagi, ketika sudah mengering, kotoran kerbau tersebut tak meninggalkan bau di dalam ruangan rumah mereka. Itulah yang saya rasakan ketika memasuki rumah tradisional suku Sasak di Desa Sade.

Berkunjung ke Desa Sade dapat disebut sebagai wisata budaya. Dari hasil kunjungan itu membuat saya semakin sadar bahwa budaya bangsa yang dimiliki negeri ini memang sangat kaya dan beragam. Desa Sade merupakan salah satu bagian kecil dari kekayaan budaya tersebut. Bagaimana dengan yang lainnya? Mari jelajahi Indonesia!


Catatan:
Tulisan ini pernah saya posting di Kompasiana


06 June 2012

INILAH GILI TRAWANGAN

Gili Trawangan memang pulau yang indah. Itulah kesan saya ketika berwisata ke pulau itu. Pantainya biru kehijauan dengan terumbu karang yang menakjubkan. Banyak turis asing yang berjemur di pantai itu, cuma bertelanjang dada bahkan ada yang melepas kutangnya demi mendapatkan kulit yang coklat merata seperti orang Indonesia. Mereka tahan berjam-jam berjemur sambil menikmati indahnya Pantai Gili Trawangan. Pemandangan yang langka ini membuat saya melirik kesana kemari secara diam-diam. Bagi teman-teman yang memakai kacamata gelap tentu tak masalah bisa melirik bebas, hehehe.

Pantai Gili Trawangan
Baru tiba di Gili Trawangan

Dari info yang saya dapat dari Wikipedia, Gili Trawangan merupakan pulau terbesar dari ketiga pulau kecil atau gili yang terdapat di sebelah barat laut Lombok. Kedua pulau lainnya adalah Gili Meno dan Gili Air. Trawangan juga satu-satunya gili yang ketinggiannya di atas permukaan laut cukup signifikan, dengan panjang 3 km dan lebar 2 km. Saat ini, Trawangan berpopulasi sekitar 800 jiwa. Bagian paling padat penduduk adalah sebelah timur pulau ini. Di antara ketiga gili tersebut, Trawangan memiliki fasilitas untuk wisatawan yang paling beragam, seperti bar, cafe, penyewaan sepeda dan peralatan snorkeling serta diving, hotel atau penginapan, dan sebagainya. Bahkan kedai "Tîr na Nôg" yang terdapat di pulau itu mengklaim bahwa Trawangan adalah pulau terkecil di dunia yang ada bar Irlandia-nya.


Jalan utama di Gili Trawangan

Dilihat dari banyaknya cafe dan bar, Trawangan punya nuansa "pesta" lebih ketimbang Gili Meno dan Gili Air. Di pulau itu banyak pesta yang dilangsungkan sepanjang malam. Setiap malamnya pesta tersebut dirotasi acaranya oleh beberapa tempat keramaian. Saya pun sempat membaca undangan pesta yang tertempel di sebatang pohon. Selain berpesta, aktivitas yang populer dilakukan oleh para wisatawan di Trawangan adalah scuba diving (dengan sertifikasi PADI), snorkeling (di pantai sebelah timur laut), bermain kayak, dan berselancar. Ada juga beberapa tempat bagi para wisatawan belajar berkuda mengelilingi pulau.

Di Gili Trawangan (begitu juga di dua gili yang lain), tidak terdapat kendaraan bermotor, karena tidak diizinkan oleh aturan lokal. Sarana transportasi yang lazim adalah sepeda (disewakan oleh masyarakat setempat untuk para wisatawan) dan cidomo, kereta kuda sederhana yang umum dijumpai di Lombok. Untuk bepergian ke dan dari ketiga gili itu, penduduk biasanya menggunakan kapal bermotor dan speedboat. Waktu tempuh dari Pantai Senggigi hingga Gili Trawangan sekitar 45 menit. Kita akan melewati Gili Air dan Gili Meno terlebih dahulu. Dari deretan tiga pulau itu, Gili Trawangan berada paling ujung. Dari udara sebelum mendarat di Bandar Udara Internasional Lombok, deretan ketiga pulau tersebut jelas terlihat.

Kapal bermotor yang membawa saya menuju Gili Trawangan.
Kapal-kapal bermotor yang sedang merapat di Pantai Gili Trawangan.

WISATA SUSU NONGOL DUA BIJI

Saat saya berwisata ke daerah Senggigi dan Gili Trawangan - Lombok beberapa waktu lalu (21 - 26 Mei 2012), sang tour leader dengan nada bercanda sempat mencetuskan kalau di Senggigi dan Gili Trawangan itu banyak sekali puskesmas dan susno duaji. Kening saya pun sempat berkerut mendengar istilah "susno duaji" dan "puskesmas" tersebut, maksudnya apa? Apakah bermakna konotasi atau denotasi? Ternyata kedua istilah yang sering saya dengar itu memiliki makna berbeda di kedua tempat wisata tadi. "Susno Duaji" merupakan singkatan dari "SUSu NOngol DUA biJI", sedangkan "Puskesmas" singkatan dari "PUSat KESenangan MAS-mas".

Saya masih belum paham juga maksud sang tour leader meski dia sudah menyebut kepanjangan dari kedua istilah tersebut. Saya baru paham ketika dia menunjuk beberapa cafe, diskotik, tempat karaoke, dan panti pijat atau massage di sepanjang jalan raya Senggigi saat kami melewati jalan raya tersebut. Tempat-tempat itu merupakan pusat kesenangan mas-mas karena selain tempat hiburan dan pijat, tempat-tempat itu juga banyak dihuni oleh wanita cantiknya. Mereka ini katanya bisa memberikan layanan plus-plus bagi para pengunjung, tinggal negosiasi saja pada mereka untuk mendapatkan layanan plus-plus tadi.

Selain puskesmas, di daerah Senggigi tersebut juga terdapat tempat tertentu yang banyak PKB-nya, yang biasa dikunjungi pada hari-hari tertentu saja. PKB? Kening saya pun kembali berkerut. Setelah dijelaskan oleh sang tour leader, ternyata PKB adalah singkatan dari "Pria-pria Kemasukan 'Burung'" alias para MaHo (manusia homo) atau gay hingga waria. Saya cuma manggut-manggut dan tersenyum ketika dijelaskan tentang istilah tersebut. Tak lupa, sambil lewat, dari dalam bis sang tour leader pun menunjuk pusat PKB, tempat para PKB suka berkumpul.

Istilah puskesmas dan pkb sudah terjawab, tinggal susno duaji yang belum terjawab nih meski pikiran saya sudah bisa menebak kira-kira apa maksudnya (pikiran kotor pun sudah melayang-layang, ahaa). Susno duaji baru terlihat ketika saya tiba di Pulau Gili Trawangan. Dari Pantai Senggigi hingga Pulau Gili Trawangan waktu tempuh dengan kapal bermotor sekitar 45 menit atau hampir satu jam.

Saat kapal merapat dan saya menuruni kapal serta menjejak di pasir pantai pemandangan langka pun segera saya saksikan. Para wisatawan asing khususnya dari Eropa dan Australia sedang asyik berjemur di panas yang terik, waktu itu sudah hampir pukul 12 tengah hari. Panas yang menyilaukan mata tak menjadi halangan buat mereka. Semakin terik sepertinya semakin asyik buat mereka. Badan mereka yang putih pun diterpa panas matahari hingga kecoklatan. Para prianya hanya mengenakan celana pantai yang pendek, mereka setengah telanjang dengan dada terbuka. Bagi saya mereka itu lebih terlihat seperti regu penolong dalam film "Baywatch". Body mereka pun kekar-kekar, six-pack, dan proporsional.

Sedang para wanitanya, seperti parade bikini di atas catwalk, dan itu menjadi pemandangan indah bagi para lelaki, khususnya para turis domestik. Beberapa rekan pria saya curi-curi foto ke arah mereka. Bahkan ada yang secara terbuka meminta foto bareng. Kapan lagi mendapat kesempatan seperti ini, berfoto bareng dengan bule-bule wanita berbikini, momen langka memang, demikian teman-teman saya itu beralasan. Beberapa di antara turis wanita itu bahkan ada yang melepas penutup dadanya alias beha, alias kutang. Dan terlihatlah dada mereka, memang pemandangan langka di tempat umum. Itulah yang dimaksud dengan susno duaji, susu nongol dua biji ... saya pun kembali manggut-manggut ....

Pantai Gili Trawangan - Lombok